Brondong Dua Belas Hari




Berjuang, berdiam menunggu adalah bagian dari perjuangan. Dan menunggu itulah yang selama ini kulakukan untuk memperjuangkanmu.

Aku menatap layar laptop yang dari beberapa waktu yang lalu kubiarkan hidup, ku tatap dalam-dalam. Berharap aku memiliki keberanian untuk menuliskan sebait kalimat yang menurutku itu menggambarkan dirimu. Jentikkan jemari perlahan menghiasi suasana kamar yang awalnya sunyi. Sedikit demi sedikit layar microsoft word terisi. Dengan kepercayaan diri yang masih belum terkumpul sempurna, kuberusaha mengingat kenangan yang pernah kulalui bersamamu, kenangan yang berstatuskan sebagai teman sekelas.

Hari ini, aku melihatmu di kelas dan aku masih tak berani menyapamu lebih dulu, meskipun kamu telah menjadi teman sekelasku. Awalnya aku masih belum mempercayai aku bisa sekelas denganmu. Menjadi teman sekelas bukanlah harapan yang pernah kuucapkan dalam setiap doa. Namun, itulah yang terjadi. Tak ada yang tahu itu bakal terjadi.
Teman sekelas, status itu membuatku sangat senang dan lebih leluasa untuk mengenalmu lebih jauh, meskipun hal-hal yang bersifat umum tentang dirimu.
Hari demi hari kulalui dengan penuh semangat, karena kamu sumber semangat bagiku. Tak ada hal yang paling menarik selain bercerita tentang dirimu. Saat itu perasaanku menjadi lebih baik, karna di hari-hari ku melewati masa terakhir di SMA terasa begitu indah, sangat indah. Hari-hari itu tak akan pernah kulupakan, karna aku tak punya mesin waktu untuk mengembalikan masa-masa indah itu. Tetapi setidaknya aku memiliki ingatan dan hati yang dapat memutar kenangan itu.
Waktu terasa begitu cepat, canda tawa yang terjalin di antara kita hanya sekilas terasa. Tak banyak yang tahu aku menyimpan perasaan kepadamu. Namun aku juga tak bisa menyembunyikannya.
Bayanganmu tak pernah luput di sudut mataku, gerak-gerikmu di kelas selalu menjadi topik utama yang terekam di otakku.  Setiap harinya aku selalu ingin menjadi yang pertama kau lihat disekolah. Tetapi itu tak pernah terjadi. Meskipun begitu kamu selalu jadi alasan pertamaku untuk datang awal-awal ke sekolah.
Sekolah masih sepi, begitu juga dengan ruang kelas. Namun, sedikit demi sedikit mulai berdatangan teman-teman yang lain. Dan salah satunya ada kamu disitu. Aku selalu memerhatikanmu dari jauh,aku melihat kamu menaruh tas dibelakang kursi. Dan kamu mengeluarkan secarik kertas. Ketika itu kupandangi kamu yang sedang menulis sesuatu di kertas. Dengan tak sengaja tatapan mata kita bertemu, dan seketika aku jadi salah tingkah karena kamu melontarkan senyum kepadaku, senyum yang selalu aku ingat darimu.
Kalau boleh aku bercerita lebih jauh, ada sebuah moment disaat aku dan kamu tak memiliki batasan apapun. Di saat semua orang yang ada di kelas sibuk dengan kegiatannya, di saat itu kita berada di satu meja dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Di situ kita tak melakukan komunikasi apapun. Entah apa yang kamu pikirkan, yang pasti dipikiranku adalah cara untuk menyapamu. Menyapa seseorang yang memiliki tempat spesial di hati ini. Hari itu adalah hari yang membingungkan bagiku, karena apa?. Karena tak ada satu patah kata pun keluar dari mulut kita berdua.
 Kau sibuk dengan tugas yang ada di depanmu dan aku hampir sibuk juga dengan selembar kertas yang sedari tadi hanya kupandangi. Tak ada minatku untuk menyelesaikan karangan itu, aku hanya membacanya dengan ogah-ogahan. Dan menurutku kamu juga tak memberi perhatian yang lebih dengan tugas didepan mejamu itu. Andaikan saat itu aku memiliki kemampuan untuk membaca pikiran seseorang, maka tak segan-segan akan kulakukan itu padamu. Agar aku punya kejelasan tentang apa yang sedari tadi kau pikirkan. Apakah itu benar-benar tugas yang kau pikirkan atau hal lain yang daritadi membuat hati ini bergetar.

Saat itu sekolah di guyur hujan, hujan yang sedari tadi tak berhenti yang ada malah tambah lebat. Banyak anak-anak yang gagal pulang kerumah tepat waktu. Dan ada pula anak-anak yang menerobos hujan. Entah apa yang dipikirkan anak-anak itu sehingga merelakan seragam putih abu-abunya basah kuyup. Belum lagi kalau banyak air hujan yang tersumbat di got-got jalan raya yang menyebabkan air merebes ke jalanan. Yang bakal buat sepatu tak layak pakai untuk ke sekolah besok.

Menurutku hujan selalu membawa berkah, aku selalu menikmati hujan itu. Apalagi jika hujan itu terjadi sampai kegiatan sekolah usai. Dengan begitu aku memiliki waktu yang lebih lama bersamamu. Karena aku memiliki banyak waktu untuk ngobrol banyak hal dengan teman-teman dikelas. Dan berharap kamu ada di situ agar aku bisa memerhatikanmu.
 Hujan juga merupakan waktu yang tepat untuk berdoa. Karena di setiap doaku selalu terselip sebuah harapan. Harapan yang sampai sekarang belum dapat kucapai. Meskipun begitu aku selalu bersyukur. Karena tanpa doa itu, mungkin sekarang kita tak bakal mengenal satu sama lain.
Aku pernah bertanya dalam hati, “mengapa kau tampak berbeda dari pria SMA yang lain?” Namun tak pernah kutemukan jawaban. Jawaban itu hanya bisa terjawab oleh hati ini yang selalu menempatkanmu di tempat istimewa. Aku juga tak pernah temukan alasan “mengapa aku jatuh hati padamu?”. Dan perkara yang paling aku benci ialah “mengapa kamu tak mau menyapaku lebih dulu?”. Apakah tak pernah terbesit dipikiranmu untuk menyapa seseorang yang dengan bodohnya menaruh hati padamu ini.
Ya, aku merasa bodoh sekali. Bagaimana mungkin aku bisa menaruh hati pada seseorang yang tak pernah menyapamu dan tak pernah menganggapmu. Aku tak tahu itu. Aku merasa telah dibutakan dengan perasaan yang hampir 2 tahun kusimpan rapat-rapat darimu. Itu bukanlah waktu yang singkat.

Bulan Februari merupakan bulan yang menurutku sangat spesial. Kenapa tidak? Karena pada bulan itu aku merasa sangat beruntung. Beruntung karena aku dan kamu terlahir pada bulan spesial itu. Aku merasakan euforia yang hebat menjelang hari kelahiranmu. Aku selalu mempersiapkan sebuah ucapan yang bakal aku kirim lewat sms pada jam 00.00. Bahkan 3 hari sebelum ulang tahunmu, aku  buat sedikit animasi dari Picasa yang isinya ucapan-ucapan serta photo-photo yang tak bisa aku sampaikan lewat sms.
Namun, yang terjadi. Aku hanya bisa mengirimimu sebuah ucapan lewat sms. Aku masih belum mempunyai keberanian untuk memberikan sesuatu yang telah kubuat 3 hari sebelum ulang tahunmu itu. Aku hanyalah cewek pengecut yang hanya berani mengagumimu dari jauh. Aku selalu berfikir bahwa aku tak pantas memberikannya. Karena aku hanya segelintir orang yang mungkin tak pernah singgah di pikiranmu. Aku tak punya kekuatan untuk memberikan sesuatu yang spesial di hari spesialmu.
  
Kamu adalah sosok yang sangat penting, yang tak ingin kulewati setiap berita dan kabarnya. Kamu berhasil merenggut rasa penasaranku. Kutunggu kamu dalam setiap akun pribadimu.  Mungkin dengan begini, aku bisa menemukan alasan mengapa aku jatuh hati padamu.
Sejujurnya aku sudah lelah, karena hanya bisa mengamatimu di depan layar handphone maupun laptopku ini. Sungguh, aku merasa sangat kecil. Bukan karena fisikku yang memang kecil. Tetapi karena terlalu banyak orang yang diluar sana yang mencintaimu hingga perhatianku terhadapmu seakan tak terlihat dan tenggelam. Kamu seakan sulit tuk digapai. Karena saat aku melangkah mendekatimu, sama saja aku membiarkanmu menjauh dariku. Itu bukan yang kuharapkan darimu.
Namun aku tak peduli, menurutku untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, memang butuh pengorbanan. Tanpa pengorbanan sesuatu yang dicapai gak akan berarti apa-apa.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku masih tetap bertahan pada perasaan itu. Perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh pecundang yang tak tahu diri. Tak tahu menempatkan perasaan pada orang yang tepat. Menurutku bukanlah kamu yang tak tepat untukku, tapi aku yang tak tepat untukmu.
Ketika semua itu hanya berawal dari perkenalan yang cukup singkat, aku tahu semua akan berlanjut dan mungkin tak punya akhir yang pasti. Sekarang, setelah sabar menunggu, prasangka itu terjawab. Hubungan yang selama ini kubayangkan jauh dari kata terwujud. Hubungan itu seakan tak bergerak sama sekali. Kita berjalan dan berpindah tapi seakan berputar ditempat yang sama kita berjalan beriringan tapi tak kunjung bertemu di ujung jalan.

Dari seseorang yang tak tahu diri mencintaimu.
Untuk seseorang yang tak pernah peka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keraguan

Wheel The Wrong