You
Ini masih cerita yang sama, aku masih
aku yang dulu begitu juga kamu. Aku masih bertahan pada hati yang sama dan kamu
masih bertahan dengan sikap yang selalu membuatku tertarik.
Ini kisah dua tahun lalu, saat
pertama kali aku mendengar namamu dan melihatmu.
Aku adalah seorang gadis SMA yang
biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa dari diriku. Aku tak lagi menggeluti
bidang seni seperti saat aku SD. Padahal dari seni lah aku dapat mengenal lebih
dari puluhan orang di 33 provinsi di Indonesia. Aku juga tak lagi latihan
menari seperti dulu. Namun, inilah aku. Aku telah tumbuh dewasa menjadi gadis
SMA.
SMA mengubah diriku begitu cepat.
Lambat laun aku merasakan banyak yang berbeda dari SD maupun SMP. Dulu aku
belum bisa merasakan hebatnya suatu hubungan. Ya. Aku merasakan hebatnya
hubungan pertemanan di masa-masa aku SMA. Aku memiliki banyak teman di SMA. Dan
aku memiliki dua orang sahabat saat itu. Mereka membuatku merasakan indahnya
dunia saat dirasakan bersama. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Suka,
duka, tawa, sedih itu pernah kami lewati. Dan bukan hanya itu saja yang membuat
masa SMA ku begitu hebat. Ada satu hal yang sampai sekarang masih bisa
kurasakan dan mungkin saja ini takkan pernah terlupakan. Satu hal ini adalah
cinta. Jujur awalnya aku hanya menyukai seseorang yang aku kenal di SMA.
Seseorang yang memiliki badan tinggi tegap, kulit sawo matang, dan memiliki
senyum yang indah. Ia selalu bersikap tenang dalam menyikapi sesuatu, maka tak
heran jika sampai sekarang ia terlihat biasa saja saat dihadapanku.
Cowok yang identik dengan sikap
cool nya itu mempunyai banyak teman.
Sikap ramah nya juga membuat dirinya semakin berkharisma. Tak sedikit senior
maupun junior yang menyukai cowok yang satu ini. Namun tak satupun yang ia gubris. Itulah yang
membuat dirinya bertahan di gelar cool
nya itu.
Dua tahun yang lalu aku duduk di
bangku kelas 11. Dari sinilah aku mengenalnya.
Saat istirahat tiba, aku berbincang-bincang dengan kedua sahabatku
di bangku belakang. Perbincangan saat itu sangat menarik karena membicarakan
tentang MOS yang baru saja berakhir. Saat itu, salah satu sahabatku bercerita
tentang seorang cowok yang menjadi trending topic di sekolah, karena
mendapatkan banyak sekali surat cinta maupun hadiah dari junior nya. Dan cowok
itu ternyata sama-sama duduk di kelas 11 seperti kita. Namun, sejak awal
perbincangan aku mendengarkan sahabatku ini menyebutkan sebuah nama yang sama
sekali asing, dan belum pernah kudengar saat aku dibangku kelas 10. Setiap kali
sahabatku ini mengulang menyebutnya, berkali-kali aku mencoba mengingat. Namun
nama itu tetap asing di telingaku.
Dengan rasa penasaran yang sangat
besar aku mencoba membuka mulut dan bertanya tentang seseorang yang daritadi
namanya disebut namun begitu asing di telinga. Dan aku bertanya pada kedua
sahabatku itu, “siapa orang yang daritadi ada di ceritamu itu? Apakah aku
pernah melihatnya?”. Kedua sahabatku saling melontarkan pandangan. Karena
mereka merasa janggal tentang pertanyaan yang aku lontarkan. Mereka melihatku
dengan pandangan yang sangat menggelitik. Mereka mengira aku suka pada cowok
yang ada di dalam perbincangan kami tadi. Namun tetap tak ku hiraukan, aku
hanya menunggu jawaban dari mereka. Dan sampai sepersekian detik tak ada satu
patah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Aku tak kehilangan akal,
aku mencoba berpura-pura marah karena pertanyaanku tak kunjung dijawab. Aku
melangkahkan kaki untuk keluar kelas. Dan.. jreng jreng. Mereka menahanku, dan
menyuruhku untuk kembali duduk untuk meneruskan perbincangan. Mereka menjawab
pertanyaanku, dan aku masih penasaran dengan orang tersebut. Entah apa yang
membuatku sangat penasaran, yang pasti saat ini aku merasa jantungku berdegup
tak karuan. Seperti tak kalah akal, kedua sahabatku ini menggodaku. Mereka
menawariku nomor handphone cowok yang dibicarakan tadi. Dan tanpa pikir panjang
aku langsung tertarik untuk menyimpannya. Namun kedua sahabatku ini kembali
mempermainkanku. Mereka akan memberikan nomornya setelah mereka mendapat persetujuan
dari pemiliknya. Kembali aku harus bersabar dan mengikuti permainan mereka. Dan
ternyata mereka telah mendapatkan persetujuannya, mereka langsung memberikan
nomor handphonenya. Selain itu, mereka juga berjanji akan mempertemukanku
padanya.
Saat itulah hidupku mulai berubah,
aku merasakan perasaan yang berbeda. Aku selalu menantikan hari dimana aku bisa
bertemu dengannya. Dua hari berlalu. Saat itu aku menghabiskan waktu istirahat
di selasar kelas, dan tiba-tiba aku tersentak kaget saat salah satu sahabatku
memberi isyarat dengan cara mencubit lengan sebelah kananku. Saat itu aku tak
menyadari bahwa seseorang yang membuatku hampir mati penasaran ini tepat berada
di depanku. Aku tak berkata apa-apa begitu pula dengannya.
Setelah pertemuan yang super singkat
itu, aku anggap sebagai perkenalan awal dengannya.
Hari-hariku menjadi sangat indah,
karena aku tak lagi menjadi pendiam saat sahabatku bercerita tentangnya. Aku
orang yang sangat bersemangat saat mendengar namanya terlontar begitu saja dari
mulut sahabatku. Aku merasa sedang jatuh cinta.
Aku bisa bilang ini cinta, karena sampai
sekarang rasa sayang itu masih ada.
Aku belum bisa melupakan perasaan ini, semakin
lama perasaan ini semakin hebat. Aku menyikapinya dengan dewasa. Karena aku
yakin, kalau dia memang untukku, maka dia akan kembali padaku. Namun, semakin
hari aku semakin kuat bertahan, tak ada satupun alasan yang bisa membuatku
untuk melupakannya. Aku hanya bisa berharap ini yang terbaik.
Maaf aku tak menyebutkan namamu,
karena namamu
telah tersimpan aman di otak serta pikiranku.
Komentar
Posting Komentar